Perahu Naga Desa Munung Kecamatan Jatikalen Nganjuk perbatasan Megaluh Jombang

 Mencermati Peluang Pembangunan Desa

Tujuan pembangunan adalah terciptanya kondisi manusia yang sehat, cerdas, produktif, dan berakhlak mulia dan masyarakat yang makin sejahtera. Pembangunan yang berkelanjutan didorong oleh perekonomian yang makin maju, mandiri, dan merata di setiap lapisan warga didukung oleh penyediaan infrastruktur yang memadai serta makin kokohnya kesatuan dan persatuan di desa yang dijiwai oleh karakter yang tangguh.

Menyambung cuitan Gus Nasrun ada benarnya juga apa yang dia katakana, bahwa pemberdayaan adalah kunci utama kemajuan desa. Dengan mengembangkan potensi yang ada, dengan berjalannya perkembangan potensi yang ada, masalah di desa sedikit demi sedikit dapat tertangani, jika sebelumnya kita mencari permasalahan sebagai acuan pelaksanaan pembangunan, perlu kiranya dicoba juga metode dengan mengetahui potensi yang ada di desa untuk bisa kita kembangkan.

Bersyukurlah kita yang tinggal di desa, karena pemerintah secara khusus memperhatikan kita yang tinggal di Desa dengan diterbitkan Undang-Undang Desa, sebagaimana dalam UU Desa Tahun 2014 yang secara umum mengatur mengenai asas pengaturan, kedudukan dan jenis desa, penataan desa, kewenangan desa, penyelenggaraan pemerintahan desa, hak dan kewajiban desa dan masyarakat desa, peraturan desa, keuangan desa dan aset desa, pembangunan desa dan pembangunan kawasan perdesaan, badan usaha milik desa, kerja sama desa, lembaga kemasyarakatan desa dan lembaga adat desa, serta pembinaan, pengawasan dan banyak lagi lainnya.

Ketika UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa disahkan, masyarakat desa mendapat angin segar. Setiap Desa di seluruh Indonesia akan mendapat kucuran dana yang dianggarkan dari APBN. Besaran alokasi anggaran yang diperuntukkan langsung ke desa ditentukan 10 persen dari dan di luar dana transfer ke daerah secara bertahap (pasal 72 UU Desa). Kucuran dana yang bertahap didasarkan dengan mempertimbangkan kemampuan APBN dan kondisi fiskal nasional.

Dana kurang lebih 1 Miliar per desa termasuk yang mengucur ke Desa Munung pada tahun 2016 belum mencapai 10% APBN. Dana tersebut baru sekitar 4,3% APBN. Selain menerima dana desa dari APBN, Desa juga mendapat alokasi dana yang bersumber dari APBD Kabupaten berupa bagi hasil pajak dan retribusi daerah. Setidaknya, desa mendapat bagian sebesar 10 persen dari APBD. Selain itu, juga memperoleh bantuan keuangan dari APBD Provinsi. Selain dana transfer, sumber keuangan Desa juga berasal dari pendapatan asli desa terdiri dari hasil usaha, hasil aset, swadaya dan partisipasi, gotong royong dan lain-lain pendapatan asli desa serta hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga dan pendapatan lain yang sah. Banyaknya sumber pendapatan dan besarnya dana yang masuk ke desa bisa mendorong desa untuk menyalip perekonomian kota. Oleh karena itu, kita orang desa yang diistimewakan jangan sampai salah arah dalam membangun desa agar  desa kita menjadi desa yang benar-benar mandiri, menjadi desa yang maju.

Untuk mewujudkan cita cita desa yang maju, dibutuhkan beberapa sosok yang saling melengkapi. Desa kita membutuhkan pemimpin yang benar benar unggul, mengerti segala kebutuhan dan mengerti cara pemecahannya. Desa butuh pemimpin dengan visi misi yang jelas. Desa butuh pemimpin yang punya pemikiran jauh ke depan. Desa butuh pemimpin yang berdaya saing. Desa butuh orang yang bisa menyatukan kita semua. Dan segala kebutuhan desa kini berada di pundak kita, para pemuda desa. Ayo pemuda Desa Munung, tunjukan dirimu, tunjukkan temanmu kalau memang desa ini memang desa yang mampu bersaing dengan sehat.

Potensi pemudae Munung iku akeh. Sarjanae yo akeh. Tukang opo ae kita punya, cheff, tukang las, tukang bikin kapal, kapal kayu, kapal besi, kapal fiber, tukang kayu, guru mechanical electrical, plumbing , letter, kuabeh ono.

Ayo sedikit berdiskusi umpomo ada isu-isu permasalahan kelompok marginal seperti di bawah ini:

  1. Rendahnya tingkat pendidikan

Kenek opo sebagian besar pelajar di Desa Munung pada akhirnya tidak berguru ke Perguruan tinggi. Ayo nyoba diskusi Bagaimana 3 sampai 4 tahun ke depan semua pelajar di desa kita bisa merasakan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri.

Terbitnya Undang-Undang Desa membawa peluang positif bagi orang desa mana kala bisa memanfaatkan dengan baik. Banyak hal yang dapat dilakukan wong deso untuk menyejahterakan, dan mencerdaskan warganya. Realisasi amanah UU Desa diharapkan berdampak pada kondisi nol kebodohan dan nol kemiskinan di masyarakatnya. Mari kita mengubah persepsi dan kita harus berasumsi bahwa pendidikan akan mempengaruhi kesuksesan ekonomi keluarga, kita harus yakin Lembaga pendidikan tepatnya sekolah  sebagai tangga strategis untuk meraih kemapanan hidup tanpa harus melalui usaha-usaha ekonomi lain yang tampaknya lebih lambat dan berrisiko tinggi untuk mengalami kegagalan.

Argumen lain yang melandasi hal ini bahwa melalui sekolah atau pendidikan formal para individu dapat mencapai tingkat keberhasilan ekonomi dengan relatif cepat
lantaran dalam lembaga sekolah menyediakan serangkaian proses pengajaran yang mampu membekali para pesertanya dengan perangkat kemampuan yang dibutuhkan oleh lahan pekerjaan di era modern. Selain itu, orang berpendidikan akan memiliki keutuhan sikap, kemampuan dan kepribadian yang progresif, kreatif dan memiliki kecermatan tinggi untuk menangkap potensi ekonomis dalam setiap kondisi
maupun situasi. Dari otak dan tangan-tangan merekalah akan memunculkan lahan-lahan penghidupan baru yang mampu menjamin kesejahteraan manusia.

Hal ini bukanlah suatu keyakinan spontan yang tidak berdasar. Berangkat dari sebuah trend sosial saat ini bahwa sejak awal dekade reformasi sebagian besar lini pekerjaan membutuhkan tenaga kerja berlatar belakang pendidikan formal. Hampir mereka yang pernah mengenyam pendidikan formal mampu terserap di lahan-lahan pekerjaan. Situasi tersebut memang tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan pemerintah terhadap tenaga terdidik untuk mengoperasikan skill dan keahliannya dalam rangka industrialisasi dan modernisasi.

  1. Ketersediaan Lapangan Pekerjaan

Dengan 10% APBN semua Desa di seluruh Indonesia melaksanakan pembangunan fisik sarana prasarana lebih diutamakan. Melihat hal ini, benar kata Gus Nasrun sebagai perilaku menyederhanakan masalah. Sebenarnya dengan 10% APBN Desa lebih mudah menciptakan pekerjaan, Lain dulu lain sekarang peraturan yang,dulu jika orang desa hendak mengusulkan pembangunan desa Harus menyelaraskan pembangunan pemerintah Kabupaten Atau Propinsi, sudah hampir semua hasil pembangunan di Desa tidak berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi kaum menegah ke bawah di Desa karena tidak sesuai kebutuhan, misalkan pembangunan Jalan , membangun jalan itu penting kata siapa tidak penting namun kita harus mengajukan berbagai pertanyaan apakah itu harus dibebankan pada wilayah APBDes bisa tidak dimintakan APBD 2 atau APBD 1, nyoba opo yang bisa di kembangkan dengan potensi yang ada di Desa,

  1. Jaminan Kesehatan Termasuk Makanan sehat bergizi dan perumahan yang layak huni
  2. Pendampingan dan penanganan anak terancam putus sekolah sampai ke jenjang yang lebih tinggi
  3. Beasiswa keluarga fakir miskin dan anak terlantar.
  4. Kenakalan Remaja, dan seterusnya

Selain sederet peluang di atas, Desa dapat mendirikan BUMDesa yang dikelola secara kekeluargaan dan gotong royong. Pendirian BUMDesa disepakati melalui Musyawarah Desa. Pendirian BUMDesa ditetapkan dengan Peraturan Desa. Jenis usaha di bidang ekonomi dan pelayanan umum. Hasil usaha BUMDesa dapat dipergunakan untuk pengembangan usaha, pembangunan desa, pemberdayaan masyarakat desa, bantuan masyarakat miskin melalui hibah, bantuan sosial, dan kegiatan dana bergulir yang ditetapkan dalam APBDes

Ayo pemuda Munung rame-rame nyalon kepala desa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *