11041661_952655491453575_2649035613989720703_n

Anak Ajaib itu bernama Chevrians Zweinevi

Setiap nama adalah doa, begitulah kata pepatah lama. Doa yang dilantunkan Suyono melalui nama anak pertamanya menjadi sebuah kenyataan. Chevrians Zweinevi atau akrab disapa Chevi, tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berprestasi.

Chevrians diambil dari kata Chev atau Chef yang berarti kepala koki atau Ratu Memasak. Dengan kata itu Suyono beserta istrinya berharap kelak anaknya bisa memberikan ,menyuguhkan, menciptakan apa saja kekmauan semua orang seperti halnya seorang Chef. Dan benar adanya, kini Chevi yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar sudah menyabet berbagai prestasi di bidang akademik maupun non akademik.

Kemampuan Membaca dan Berhitung

Beberapa tahun silam, saat usianya belum genap 4 tahun, ia sudah bisa membaca. Urusun berhitung pun demikian, ia sudah mahir berhitung tanpa kertas coretan di saat menginjak pendidikan Taman Kanak-Kanak. Kemampuan berhitungnya jauh melampaui kemampuan rata-rata anak seusianya.

“Untuk bejajar membaca, aku cuma nyediain game membaca. Trus untuk berhitung dikasih game berhitung. Akibate belum lulus TK penjumlahan ratusan tanpa orat oret, anehnya dia mejumlah dari depan, Ujar Suyono yang diwawancarai oleh Munung.com di sela kesibukannya menjaga toko kelontong di depan rumahnya.

Memiliki anak yang cerdas diakui oleh Suyono sebagai sebuah tantangan tersendiri. Saat anaknya itu menginjak kelas 2 Sekolah Dasar, Suyono menghadapi kebingunan dalam menyikapi cara Chevi berhitung. Chevi melakukan perhitungan perkalian dimulai dari depan. Sebuah cara yang menurutnya sulit untuk dijelaskan. Di sisi lain pendidikan formal di sekolah mengajarkan untuk menghitung perkalian dimulai dari belakang.

“Saya ajari dia gak mau. Susah Yah ngunu iku suwi. Cepet kayak gini, Ujar Suyono menirukan kata-kata anaknya.

Menanggapi hal semacam itu, Suyono mencoba mengaprsiasi anaknya. Ia menyuruh anaknya untuk menjelaskan kepada gurunya bahwa itu adalah caranya sendiri dalam berhitung. Tapi dengan berbagai pertimbangan, sang guru tidak menerima cara itu. Sejak saat itu Suyono menyerahkan sepenuhnya urusan sekolah dengan cara dan kurikulum yang dipakai oleh sekolah.

“Silakan di-test dan dibandingkan bagaimana cara Chevi berhitung dengan cara berhitung pada umumnya yang diajarkan di sekolah. Jawabannya pasti sama,” lanjut Suyono yang juga sering dipanggil Once ini.

Dalam belajar Chevi dididik untuk selalu semangat. Suatu ketika Suyono mengajaknya jalan-jalan ke Lapangan Kecamatan Jatikalen, Nganjuk. Di sana ia memperlihatkan seseorang yang sedang menggembalakan kambing. Ia juga mengajak anaknya untuk melihat bagaimana susahnya orang membersihkan got di daerah Karangpilang, Surabaya.

Harus serba bisa kalau ingin pintar, kalau orang pintar kerjanya enak ruanganya dingin. Kalau malas belajar temannya kambing, kerjanya membersihkan got, kerja di tempat kotor, kata Suyono mempraktekkan bagaimana ia mendidik anaknya.

Berkenalan dengan Piano hingga Juara Festival Drum

Soal kemampuannya bermusik, Suyono lagi-lagi menggunakan caranya yang terdahulu untuk memacu semangat belajar anaknya. Chevi yang masih berusia 5 tahun diperlihatkan anak dari Bung Samito yang sedang bermain piano untuk acara perpisahan sekolah.

“Ingin tidak kamu seperti anak e bung sam? Ngunu iku ayahnya bangga.  Orang segitu banyak datang cuma ingin lihat anaknya Bung Sam, main piano. Umpomo perpisahan TK nanti kamu yang iringi mau kah?” ujarnya.
Sejak saat itu Chevi meminta kepada ayahnya untuk diajari bermain piano. Tanpa disadari, sebelum lulus TK, ia sudah bisa bergabung dengan ayahnya untuk bermain musik bersama di grup dangdut.

Ketertarikan Chevi pada musik semakin lama semakin menjadi. Video remakan ayahnya yang sedang bermain gitar memacunya untuk bisa bermain gitar. Ujung jari yang sakit tidak dihiraukannya dalam memainkan gitar.

Tak puas dengan piano dan gitar, Chevi kembali tertarik untuk belajar alat musik lainnya. Kini ia sedang gandrung bermain drum. Alat musik inilah yang sampai hari ini ia tekuni. Dari drum pula ia menyabet berbagai penghargaan.
Awal ketertarikannya pada Drum bermula saat ia bersama ayahnya melihat sebuah konser solo drum di acara Car Free Night di Jombang. Tontonan lainnya ia abaikan. Ia tak mau meninggalkan konser itu hingga acara usai.

“Aku pingin iso ngedrum,” kata Chevi saat meninggalkan konser itu.

Itulah awal perjalanan Chevi bersama alat musik kesayangannya itu. Sejak saat itu pula, ia sering belajar drum sendiri. Drum milik grup dangdut ayahnya ia pakai untuk belajar. Suyono yang sama sekali tidak bisa bermain drum akhirnya mengirimnya untuk les drum di Kota Jombang.

Di tempat les drum itulah kemampuan musik Chevi semakin berkembang. Setiap teknik baru yang diajarkan oleh gurunya ia praktekkan di rumah. Ia juga tak mau telat berangkat menuju tempat lesnya. Bahkan kini ia sering mengajari ayahnya berbagai teknik bermain drum seperti stiking, singgle strok,  dobel strok dan tripel strok.

Berbagai kejuaran yang telah dimenangkan oleh Chevi tak mambuatnya puas. Setiap ia mendengar dan tau tentang lomba, ia selalu berusaha untuk ikut. Di saat yang sama, keterbatasan kondisi perekonomian keluarga membuatnya harus menahan diri. Mengatasi hal itu, Suyono lagi-lagi punya strategi. Ia menetapkan jarak waktu minimal dari satu lomba ke lomba lainnya. Jika satu lomba dengan lomba berikutnya sudah berjarak tiga bulan atau lebih, baru Chevi boleh mendaftar jadi peserta.

One comment

  1. Terima kasih info tentang ini sangat bermanfaat.
    Oiya sekedar info nih, bekerja sebagai chef atau koki di kapal pesiar berpenghasilan tinggi lho.. Bahkan bisa sekaligus keliling dunia dan itupun dibayar dengan gaji yang besar..
    Semoga website ini terus menyajikan info yang menarik dan bermanfaat bagi pengunjung dan pembaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *