Slamet Penanda Awal dan Akhir Kehidupan

Cak Slamet, Sang Penanda Awal dan Akhir Kehidupan

Dia orang yg lucu, kedatangannya selalu ditunggu dan disambut meriah oleh kerumunan anak-anak. Ujung daun telinganya bisa berbunyi “gemeretak” saat dijewer. Tak pernah sekalipun ia tersinggung ketika tiba-tiba seorang anak nyelonong memutar ujung daun telinganya.

Tapi di balik kelucuannya, anak-anak juga menghormatinya, menganggapnya ‘wong sekti ra ndayani’. Mereka menganggapnya berteman dengan Izrail. Dimanapun ada kematian, dia selalu tau dan datang. Setidaknya di hampir seluruh desa di Kecamatan Megaluh dan Plandaan (Kabupaten Jombang) dan Kecamatan Jatikalen (Kabupaten Nganjuk). Meski ia bukan warga desa munung, saya merasa penting untuk menulis tentangnya. Ia berjasa besar bagi masyarakat Munung.

Apa jasanya? Apa yang kerjakanolehnya? Spesialis perawatan jenazah. Ia Menyiapkan tong, sabun, menimba air hingga lari kesana-kemari mencari tukang jahit untuk menyambung kafan. Sering ia datang ke rumah, meminta bantuan bapak. Dulu bapak saya seorang penjahit. Orderannya ramai ketika musim sekolah dan musim orang mati.

Seingat saya, dia datang empat kali di rumah saya. Sekali diantaranya saat pernikahan kakak saya dan sisanya karena keluarga saya meninggal. Dialah Cak Slamet, Sang Pengabdi -bukan Slamet, sang pengendang New Pallapa-. Dialah sang Penanda Awal dan Akhir Kehidupan.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *