Modin Samito

Nama Panjangnya Raden Mas Modin Bung Samito Paimin Arga Permana

Ini sahabat saya yang lain lagi, namanya Samito. Para penyanyi termasuk Dek Devi (artis dangdut didikan Samito yang kini kondang es jagad Koplo) memanggilnya pak Sam. Anaknya sudah 2, usianya tak lagi masuk anggota Karang Taruna.

Beberapa orang memanggilnya dengan sebutan Modin. Di Desa kami, Mbah Modin bertugas merawat jenazah atau bantu ngurus surat nikah. Tak pernah sekalipun ada SK. pengangkatan Samito sebagai Modin juga tak pernah sekalipun dia ke KUA kecuali ngurus surat nikahnya sendiri puluhan tahun silam. Dia dipanggil demikian hanya karena dia adalah orang yang paling religius di antara musisi lain di grup orkes kami.

Oh ya, saya lupa menceritakan bahwa dia adalah Bassis di orkes kami. Di antara musisi lain, kecerdasan bermusiknya biasa saja, apalagi jika saya bandingannya, Hehehe (ampunnn, pangapunten Bung). Tapi kalau soal kesabaran, tak ada satu pun yang menyamainya. Dia orang yang paling sabar dan istiqomah dalam mengabdi pada seni.

Para pemuda memanggilnya Bung Sam

Hingga kisaran tahun 1990an, di Jombang terdapat seorang penyiar Radio ternama, tak setiap orang tahu nama Bupati Jombang, tapi semua orang tahu nama penyiar Radio itu, beliau adalah Almarhum Bung Sam Adisurya. Usut punya usut Bung Sam Adisurya memiliki hubungan kekerabatan dengan Samito. Sejak diketahui ada hubungan kerabat dengan Bung Sam Adisurya, Samito dipanggil Bung Sam pula.

Bukan hanya karena hubungan keluarga saja sebenarnya, tapi karena memiliki profesi yang sama, sebagai Penyiar Radio. Masyarakat percaya kata pepatah “buah tak jatuh jauh dari pohonnya”, panggilan Bung Sam juga bentuk dukungan masyarakat agar Samito kelak menjadi penyiar besar juga seperti kerabatnya itu.

Meskipun ada hubungan darah dengan penyiar ternama, Samito tak pernah memakai gelar kebesaran “Bung Sam” ataupun “Adisurya” di belakang namanya. Tak seperti “Ridho” yang harus diakhiri kata “Rhoma”, tak seperti “Adi” yang disemati “Bing Slamet”, juga tak seperti “Lukman” yang disertai “Sardi”. Di awal kariernya sebagai penyiar, dia justru menggunakan nama “Arga Permana”.

Akulah Paimin

Ini jamannya ganti nama, dimana Tokobagus ganti menjadi jadi OLX. LA TV yang dulu menyiarkan komedi tengah malam berganti nama menjadi TV One. Arga Permana kembali hadir di ruang dengar masyarakat Nganjuk Jombang dan sekitarnya dengan nama baru, “Cak Paimin”. Lagi-lagi tak menyinggung kebesaran nama Sam atau Adisurya.

Banyak penggemar protes karena nama baru itu. “Apakah tidak ada nama yang lebih baik?” katanya menceritakan komplain dari fans beratnya. Apa Jawabannya? “aku iki wong ndeso, pendengarku yo wong ndeso, paimin wes cukup menjual dan mudah diingat”.

Lagi-lagi ini adalah orang luar biasa yang ada di desa saya. Dia tahu di mana dia berada, dia tak mau terlepas dari masyarakatnya. Dia sedang mnyelami ajaran WS. Rendra. Bung Sam atau Cak Paimin tak mau menjadi “… penyair salon, yang bersajak tentang anggur dan rembulan…”. Karena “…apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *